Ini Dia Pengertian dan Pembagian Teori Kebutuhan Menurut Maslow 2022

 

TEORI MASLOW

Abraham Maslow adalah salah seorang pendiri pendekatan humanistik dalam psikologi, Pada tahun 1943, dia mencetuskan pandangan bahwa manusia memiliki lima kebutuhan ang membentuk tingkatan-tingkatan (hierarki) dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Pandangan didasarkan pada studi klinis pasien neurotik yang sangat terbatas. Walaupun demikian, pendapat ini menjadi salah satu konsep yang paling berpengaruh di bidang manajemen.

Teori Maslow sangat memengaruhi mereka yang tertarik akan perilaku kerja. Menurut Maslow, orang selalu memiliki kebutuhan. Ketika salah satu kebutuhan relatif terpenuhi, kebutuhan yang lain muncul sesuai dengan urutan hierarkinya. urutan hierarki kebutuhan Maslow meliputi kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamananan keselamatan, kebutuhan sosial atau memiliki kebutuhan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri.

1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)

Di bagian bawah hierarki kebutuhan adalah kebutuhan berdasarkan dorongan fisik, seperti kebutuhan akan makanan, Air, tidur, dan seks. Kebutuhan ini disebut kebutuhan fisiologis atau kebutuhan biologis. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan primer. Kebutuhan ini harus terpuaskan terlebih dahulu. Pemenuhan kebutuhan level terendah ini memungkinkan individu untuk dapat hidup. Oleh karena itu, kebutuhan kelangsungan hidup manusia. Kebutuhan merupakan syarat dasar bagi fisiologis mutlak dipenuhi. Ketika kebutuhan sudah terpenuhi, kebutuhan ini tidak lagi memotivasi orang untuk melakukan sesuatu.

2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan (Safety or Security Needs)

Kebutuhan akan keamanan dan keselamatan dalam hierarki kebutuhan Maslow berada setingkat di atas kebutuhan fisiologis. Kebutuhan akan keamanan dan keselamatan muncul setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi. Ketika kita merasa terancam, tidak bebas atau dalam bahaya, kebutuhan kita yang terbesar adalah untuk keamanan dan keselamatan. Kebutuhan akan keselamatan adalah kebutuhan untuk melindungi diri dari bahaya fisik. Kebutuhan akan keamanan terkait dengan konteks fisiologis dan hubungan interpersonal. Keamanan fisiologis berkaitan dengan sesuatu yang mengancam tubuh dan kehidupan seseorang Ancaman itu bisa nyata atau hanya imajinasi. Contohnya : penyakit, rasa cemas, dan rasa Dalam konteks hubungan interpersonal, seseorang juga membutuhkan rasa aman gamang.

Dalam konteks hubungan interpersonal, seseorang juga membutuhkan rasa aman Keamanan interpersonal bergantung pada banyak faktor, seperti kemampuan berkomunikas kemampuan mengontrol masalah, dan kemampuan memahami orang-orang di sekitarnya dan lingkungannya. Dalam dunia kerja, rasa aman menjadi faktor yang sangat memenga kepuasan kerja seseorang. Tindakan pimpinan yang sewenang-wenang atau otoriter, seper pilih kasih dan diskriminasi dapat menjadi ancaman kuat untuk keselamatan setiap karyawan di tingkat mana pun. Asuransi merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan untuk membantu pekerja memenuhi kebutuhan akan rasa aman.

3. Kebutuhan Sosial atau Memiliki (Social or Belonging Needs)

Setiap orang memiliki kebutuhan dasar untuk mencintai dan dicintai, memberi dan menerima kasih sayang (misalnya, dalam sebuah keluarga, kelompok sebaya, atau masyarakat Kebutuhan seperti ini disebut kebutuhan sosial atau memiliki. Kebutuhan sosial atau memiliki sering juga disebut sebagai kebutuhan akan cinta atau afiliasi. Kebutuhan sosial atau memiliki meliputi kebutuhan memiliki, asosiasi, penerimaan oleh rekan-rekan, persahabatan, dan cinta. Kebutuhan sosial atau memiliki meliputi kebutuhan memiliki, asosiasi, penerimaan oleh rekan-rekan, persahabatan, dan cinta. Kebutuhan sosial atau memiliki adalah kebutuhan yang menggambarkan emosi seseorang. Kebutuhan ini merupakan suatu dorongan untuk menjalin hubungan yang efektif atau hubungan emosional dengan orang lain.

Ketika kebutuhan ini mendominasi, orang berjuang untuk menjalin hubungan yang bermakna dengan orang lain. Dengan ini, dia merasa mendapatkan pengakuan. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, seseorang mungkin merasa terisolasi dan kesepian dan bisa menarik diri atau menjadi menuntut dan kritis.

Dalam dunia kerja, ketika kebutuhan sosial karyawan serta kebutuhan keamanan mereka tidak terpenuhi, mereka dapat berperilaku resisten, antagonis, tidak kooperatif bahkan dapat mengesampingkan tujuan organisasi.

4. Kebutuhan Harga Diri (Self-Esteem Needs)

Setelah kebutuhan sosial atau memiliki terpenuhi, orang mungkin mulai merasa perlu untuk memenuhi kebutuhan akan harga diri. Kebutuhan harga diri terdiri dari dua jenis Pertama, kebutuhan yang berkaitan dengan kebutuhan untuk kepercayaan diri, kemandirian, prestasi, kompetensi, dan pengetahuan. Kedua, kebutuhan yang berkaitan dengan reputasi seseorang, seperti kebutuhan akan status, pengakuan, penghargaan, dan rasa hormat dari rekan-rekannya.

Harga diri muncul melalui prestasi dan pengakuan dari orang lain. Untuk mendapatkan harga diri, seseorang harus menghargai apa yang telah dilakukannya dan apa yang akan dilakukannya serta meyakini bahwa dirinya benar-benar dibutuhkan dan berguna. Seseorang yang memiliki harga diri yang baik akan memiliki kepercayaan diri yang baik pula. Selain itu, dalam dirinya juga akan terbentuk kemandirian. Dengan demikian, dia akan lebih produktif.

5. Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization Needs)

Di tingkat paling atas dalam hierarki kebutuhan Maslow ada kebutuhan pemenuhan diri atau aktualisasi diri. Kebutuhan ini membawa kita untuk berusaha mewujudkan potensi sendiri, untuk mengembangkan diri, dan untuk menjadi kreatif. Jika kita menghadapi hambatan dalam mencapai potensi sejati kita, kita akan merasa frustasi. Menurut Maslow, sangat sedikit individu yang dapat mencapai tingkat aktualisasi diri karena pemenuhan kebutuhan ini sangat sulit dan menantang. Contoh individu yang bisa dikatakan telah mencapai tingkat aktualisasi diri antara lain adalah Abraham Lincoln dan Albert Einstein. Maslow (1971) mengembangkan konsep aktualisas! diri setelah mempelajari kehidupan orang-orang yang sangat produktif dan luar biasa, seperti Abraham Lincoln, Albert Einstein, dan Eleanor Roosevelt.

Maslow percaya bahwa orang-orang mampu mencapai tujuan aktualisasi diri karena mereka telah mengembangkan karakteristik kepribadian Individu yang dapat mengaktualisasikan dirinya. Adapun karakteristik itu sebagai berikut:

  1. Memandang realitas secara akurat
  2. Independen dan otonom
  3. lebih memilih untuk memiliki hubungan kasih yang mendalam hanya dengan beberapa orang
  4. fokus pada pencapaian tujuan
  5. mengalami pengalaman yang memuaskan

Maslow percaya bahwa meskipun sangat sedikit individu mencapai tingkat aktualisasi diri, setiap orang memiliki kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri. Kecenderungan ini memotivasi kita untuk menjadi orang yang terbaik sesuai dengan kemampuan kita dalam sikap kita sehari-hari. Seorang pelajar dapat mengaktualisasikan dirinya pada saat dia belajar. Dalam proses aktualisasi diri, kita mengungkapkan semua bakat, kualitas, dan kapasitas kita. Kita menjadi seseorang yang sesuai dengan potensi kita.